Rupiah Terus Melemah, Krisis Moneter 1998 Berulang?
Pelemahan
Rupiah terhadap dolar AS yang terjadi sejak 15 Agustus 2013 lalu membuat
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono gusar. Rupiah di beberapa perbankan Indonesia
menembus di atas Rp11.000 per dolar AS dan niscaya bakal terus melemah jika
pemerintah tidak berbuat apa-apa.
Di kantornya, Rabu 21 Agustus 2013, Presiden mengumpulkan seluruh menteri
ekonomi guna membahas masalah ekonomi terkini, khususnya soal anjloknya nilai
Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Presiden menekankan dua faktor
tersebut sudah cukup menjadi alasan untuk menyusun langkah persiapan menghadapi
ancaman krisis di kawasan, termasuk Indonesia.
Presiden memberikan tenggat kepada kementerian dan otoritas terkait untuk
merumuskan paket kebijakan yang perlu diambil pemerintah dalam merespons
potensi hantaman krisis global saat ini. Obat penawar krisis yang dirumuskan,
SBY melanjutkan, nantinya akan berbentuk paket kebijakan dalam berbagai sektor.
Sehingga diharapkan bukan hanya dapat menyembuhkan, tapi juga menjadi penguat
stamina dan stabilitas ekonomi Indonesia.
Presiden mengimbau agar masyarakat, khususnya pelaku pasar keuangan, tidak
perlu terlalu khawatir mengenai langkah-langkah antisipasi ini. Pemerintah dia
jamin akan berupaya penuh menerapkan solusi terbaik. "Saya harap mendapat
dukungan dari seluruh rakyat, semua itu untuk kepentingan rakyat," kata
SBY di kantor Presiden.
Toh demikian, Ketua Umum Partai Demokrat ini pesimis target pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada tahun ini dapat mencapai 6,3 persen sesuai yang ditargetkan
dalam Anggaran Pendapaan dan Belanja Negara Perubahan 2013. Ini terkait dengan
perkembangan baru dunia internasional, yaitu pengetatan likuiditas Amerika
Serikat, yang bakal berdampak langsung terhadap ekonomi Asia, termasuk
Indonesia.
Presiden bahkan meminta para pelaku usaha untuk tidak melakukan Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK) di tengah guncangan ekonomi ini. Berbagai paket kebijakan
akan dikeluarkan pemerintah, termasuk insentif bagi pelaku usaha untuk membantu
mereka menghadapi krisis ekonomi global. "Kita harus mengamankan juga
saudara-saudara kita para pekerja, seperti juga mengamankan rakyat yang
lain," ujar SBY.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Armida
Alisjahbana, di kantor Presiden, Selasa 21 Agustus 2013, mengungkapkan paket
kebijakan yang sedang diracik pemerintah akan saling berhubungan dan fokus
terhadap insentif industri padat karya untuk mencegah PHK.
Armida mengatakan paket-paket kebijakan yang akan diputuskan Presiden
sebenarnya telah lama disiapkan, namun masih menunggu momentum yang tepat untuk
implementasinya. "Saat ini siap diterjemahkan dalam bentuk Perpres dan
sedang difinalisasi dalam 1-2 hari mendatang," katanya.
Di tempat yang sama, Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan formula
penawar krisis ekonomi Indonesia akan merelaksasi ketegangan ekonomi di
Indonesia akibat pengaruh eksternal. "Tujuan kebijakan ini untuk membuat
stabilitas ekonomi," katanya.
Selain itu, ia menilai pelemahan Rupiah terhadap dolar AS ini juga memberikan
pengaruh positif karena eksportir akan berlomba-lomba mengirim barangnya keluar
negeri sementara importir menahan diri untuk melakukan aksi impor
besar-besaran.
Deputi Gubernur
BI, Pery Warjiyo, menyatakan hingga 20 Agustus 2013, Bank Indonesia telah
melakukan intervensi pasar valas untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah. Dalam
dua hari pertama pekan in, BI telah menggelontorkan Rp2,6 triliun untuk membeli
Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
"Sepanjang
2013 kami telah membeli SBN sekitar Rp31 triliun. Kami juga terus berkoordinasi
dengan pemerintah dan OJK untuk menstabilkan pasar keuangan kita.
Krisis
moneter 1998 berulang?
Rupiah terus melemah sejak 15 Agustus 2013. Bloomberg melansir Rupiah
berada di posisi Rp10.775 per dolar AS pada penutupan perdagangan 21 Agustus
2013. Bank Indonesia mematok Rp10.777 untuk kurs jual dan Rp10.669 untuk kurs
beli.
Namun, berbagai bank seperti BCA, Bank Mandiri, Bank Panin dan BII Maybank
sudah memperdagangkan dolar AS di atas level Rp11.000 per dolar AS. Kepala
Ekonom Bank Mandiri Destry Damayanti, Rabu 21 Agustus 2013, mengungkapkan
tingginya impor bahan baku dan pangan menjadi penyebab defisit transaksi
berjalan dan sudah berada pada taraf memprihatinkan. Defisit transaksi berjalan
ini menekan nilai tukar Rupiah.
Fokus dunia saat
ini sedang tertuju ke India dan Indonesia, dua negara di Asia dengan defisit
neraca berjalan terbesar dan sangat tergantung pada modal asing untuk memenuhi
kebutuhannya. Dalam seminggu terakhir, mata uang India dan Indonesia terjun
bebas.
Pemerintah Indonesia melaporkan adanya pelebaran tajam dalam defisit neraca
berjalan--yang terburuk sejak 1996--akibat penurunan nilai ekspor komoditas.
Inflasi pun melonjak karena kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Gejala di India dan Indonesia dikhawatirkan bakal menjalar ke negara-negara
lain di Asia Tenggara, karena diperparah oleh perlambatan ekonomi China, mesin
pertumbuhan terbesar di Asia.
Thailand diprediksi bisa menjadi korban selanjutnya. Data HSBC menunjukkan
utang rumah tangga terhadap Produk Domestik Bruto (GDP) Thailand melonjak dari
55 persen pada 2009 menjadi 80 persen per hari ini. Total utang terhadap GDP
saat ini berada di level 180 persen. Sementara itu, di Malaysia dilaporkan
terjadi peningkatan utang dan Ringgit pada awal perdagangan pekan ini turun
delapan persen, menyentuh titik terendah dalam tiga tahun terakhir.
"Asia akan memasuki periode stagnasi pertumbuhan selama beberapa tahun
mendatang. Asia merupakan tempat manis yang akan segera berakhir," kata
Kepala Ekonom Asia HSBC, Fred Neumann.
Namun, analisis bernada optimistis disuarakan Direktur Utama Bank Mandiri Tbk,
Budi Gunadi Sadikin. Menurutnya, Indonesia sudah sering mengalami penurunan
nilai kurs seperti ini. Pelemahan Rupiah juga terjadi pada tahun 2000, 2005, 2008,
dan 2011. Jika berpatokan pada data-data yang ada dan dibandingkan, dia
mengakui ada kemungkinan terjadi seperti 2008, meskipun kemungkinannya teramat
kecil.
Budi mengakui kondisi Indonesia saat ini tidak sekuat 2001 dan 2010. Namun, dia
hakulyakin Indonesia masih dapat bertahan dalam kondisi pelemahan seperti
sekarang ini. "Pada 2008 IHSG turun 61 persen, obilgasi tenor 10 tahun
naik dari 9 ke 20 persen, inflasi naik dari 6 ke 12 persen. Sekarang kita lebih
baik dari itu. Kalau kita bisa survived di 2008 kenapa 2013 ini tidak
bisa?" dia mempertanyakan. (kd)
analisa : kenaikan dollar pada mata uang di seluruh dunia
sangatlah spektakuler khususnya di Indonesia,karena adanya penaikan dollar
menyebabkan terjadinya inflasi yang membawa dampak besar bagi perekonomian
Indonesia. Industri kecil misalnya,mereka harus mngurangi hasil produk mereka
karena keterbatasan bahan baku akibat sebagian kecil pembuatan dari produk
mereka adalah import. Melemahnya rupiah ini membuat pemerintah berupaya
semaksimal mungkin untuk menstabilkan rupiah agar kejadian tahun 1998 tidak
terulang lagi di tahun 2013 ini.